Tulisan Berjalan
Kita mulai cerita jalanan ini dengan ucapan basmalah, semoga bisa membawa maslahat. Motor matic berwarna hitam dengan garis merah sedikit merona sementara dipanaskan dan tidak sampai mendidih untuk memulai perjalanan yang kiranya panjang ini. Meninggalkan halaman rumah, motor ini melaju dengan kecepatan sedang menuju kota daeng. Kira-kira butuh 4-5 jam perjalanan sampai di kota Makassar yang selalu saja ramai dengan hiruk-pikuk aktivitas.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke
utara, Sulawesi Selatan (sulsel) saya beristrahat 2 hari di rumah bersama keluarga PPKn, sembari mempersiapkan beberapa hal untuk melanjutkan periode
langkah. Bersama senior saya rasa teman dan juga rasa saudara, kami memulai
penulusaran garis kuning. Melewati terowongan simpang lima bandara Sultan
Hasanuddin yang ciamik dengan ukiran ornamen kebudayaan Sulsel, tak butuh waktu
yang lama sampai di kabupaten Maros. Jalanan yang cukup lengan untuk
menghentakkan motor, terasa kami sudah di jembatan penghubung antara kabupaten Maros
dengan kabupaten Pangkep, sebelum melaju kami merasa tekanan ban motor terlalu
keras, hingga kami mengurangi tekanan angin dengan memencet bel, eeh bukan
cerdas cermat lagi. Sebelum sampai di kota tugu bambu runcing, kami menghubungi
teman alias letting saya untuk bertemu dan beristrahat sejenak, ulung pun tiba
rupanya dia pun lagi di warung kopi sambil main catur, yang rajanya pun mulai
goyang alias gelisah gerak sana sini, survei yang tinggi tidak cukup menenangkan
sang raja.
Kami berbincang banyak, teman
saya ini berinisial wahyu, dari namanya sudah membawa pesan yang hikmat, bro
wahyu sudah menikah dan InsyaAllah sebentar lagi akan jadi orangtua, aamiin.
Saat dirasa istrahat sudah cukup kami berpamitan eeh malah dikasih fulus
pembeli bensin, makash bro. Rejeki dimana-mana...
Memasuki kabupaten Barru dengan
lintasan rute yang sangat panjang, membuat pantat seakan ingin bergoyang. Ditengah
perjalanan kami menepi karena hujan, sebenarnya bawa mantel namun kami merasa
capek jadi istarahat dulu di mesjid sembari melaksanakan ibadah, sembari coba
mengontak teman yang di kota Pare. Benar saja panggilan dari warga PPKn yang
bermukim disana menyuruh kami istrahat, lagi-lagi rejeki anak perjalanan selalu
ada, alhamdulillah. Pelakunya om Indra dan om ikram, dipanggil om karena
mukanya mendukung untuk jadi calon kepala dinas pendidikan, dua-duanya adalah
guru dan mengajar ditingkatan SMK hanya beda sekolah, persaingan yang cukup ketat, yang terakhir ini anggap saja sebagai selingan.
Setelah memuaskan kampung tengah
dan motor dirasa sudah cukup dingin untuk memulai kenalan maksudnya perjalanan.
Seperti yang kita tahu sebagai kota pelabuhan, Pare-pare senantiasa rame
ditambah perepatan jalan yang sangat banyak, motor kami membelah kota ini
menuju Kabupaten pinrang.
Tidak sampai 1 jam untuk sampai
di Kabupaten Enrekang, kami bergantian bawa motor. Senior saya yang begitu
lihai dengan trayek tikung menikung karena pengalaman ditikung dijan(L)ur
kuning kali ya hahhaa. Kabupaten Enrekang dengan pesona yang memanjakan pejalan
membuat kita terkesima dengan panorama alamnya, sebuah lekukan alam yang maha
indah. Kami istrahat sejenak di warung yang berhadapan dengan gunung nona,
sungguh indah. Sembari istrahat kami menghubungi senior dan dimintah singgah
dirumahnya, lagi-lagi seperti tebakan Anda kami disuguhi kebaikan. .
Lalu kami meminta izin, untuk
melanjutkan perjalanan ke Utara. Teman seperjuangan kami sebenarnya sudah
sampai duluan di Rantepao, menunggu kami disana. Malam menyergap ditambah hawa
yang cukup dingin menjajaki jalanan kabupaten Tanah Toraja yang sangat mulus
dilintasi. Tidak memakan waktu lama, kami sudah sampai di kota Makale, kami
beristrahat sejenak menikmati keindahan kota ini dengan perpaduan hiasan lampu
kota dengan keberagaman yang mewarnai sulawesi kita.
Meregangkan badan sejenak, lalu
melanjutkan perjalanan ke Rantepao, teman disana sudah menunggu di rumah junior kami yang juga warga PPKn, benar bahwa banyak teman banyak
rejeki dan namanya juga mendukung untuk meminta tolong ‘Rezki’ yang tahun ini berencana
menyelesaikan kuliahnya. Kami menginap 2 malam di rumahnya untuk menyelesaikan
urusan kami di Toraja Utara. Disini pun saya atau kami menyaksikan suguhan alam
nan bersahaja sampai bagaimana keberagaman ini terjalin harmonis, budaya yang
mengikat lagi memikat membuat para wisatawan lokal atau pun asing rasanya akan
ketagihan untuk mengunjungi Toraja.
Dalam dua hari tersebut, kami pun
bertemu letting saya yang saat ini bekerja di Kabupaten Morowali, cuman saat
ini sedang pulang karena saudara perempuannya menikah, dia sendiri masih lajang
dan lagi giat-giatnya mengumpulkan rejeki, sebelum berpisah tak lupa berbagi hasil
keringat kepada saya. Lalu, urusan kami selesai dan belum lengkap rasanya kalau
tidak melakukan blusukan wisata sebelum pamit, kami mengunjungi beberapa tempat
menuntaskan hasrat keingintahuan akan budaya dan tempat wisata yang keren ini.
Kami pamit, teman kami balik
kanan ke Polman saya bersama senior saya tidak betul-betul pamit karena masih
ingin berkelana di Kabupaten Luwu Utara, tepatnya di kampung durian kecematan
Sabbang. Panggilan dari kawan alias junor untuk menyambangi kampungnya
merasakan durian dari sumbernya yang memang lagi musimnya. Kami menginap 2
malam disana dan hampir sepanjang 2 hari tersebut kami banyak-banyak mengeksplorasi
aneka jenis durian, sungguh nikmat. Sebelum putar haluan kembali ke Makssar,
kurang lengkap rasanya sebelum ambil bagian gambar di tugu durian sebagai
simbol atau penanda kampung ini, kecamatan Sabbang adalah surganya buah durian.
Kami berpamitan, lalu melaju
kembali menyusuri garis kuning. Sebelum memasuki kota Palopo, motor kami
mengalami putus vanbelt dan syukurnya bengkel tidak jauh dari jangkaun saat
rusak, mengganti vanbelt lalu melanjutkan perjalanan. Lagi, belum beberapa
menit menitih jalan, giliran ban motor kami yang bermasalah, ternyata sudah aus
dan harus diganti pula. Saat itu bengkelnya sangat jauh, hingga menelurkan
keringat di siang hari, kami sampai sempat bergantian untuk membawa motor
hingga memasuki gerbang kota palopo baru dapat bengkel.
Kala itu hari jumat, kembali kami
dipanggil oleh teman alias senior PPKn untuk nongkrong di kota Palopo sebelum
memasuki shalat jumat, lagi dan lagi rejeki hadir di perjalanan. Setelah dirasa
cukup istrahat dan juga menambah daya energi kami berpamitan melanjutkan
perjalanan ke Makassar. Kami mengambil rute jalur Palopo-Rantepao untuk kembali
di Makassar, sepanjang jalan tersebut hamparan keindahan memanjakan bagi
pengendara, kecuali yang bawa motor harus berhenti sejenak kalau ingin melihat
suguhan keindahan ini. Informasi tambahan jalur Palopo-Toraja salah satu view
yang menurutku keren sekali.
Kami pun melaju pulang dan
alhamdulillah selamat sampai di kota Makassar. Untuk segala pertolongan dan
nikmat tiada kata yang patut diucapkan selain rasa syukur. Alhamdulillah
Terima kasih untuk pembaca cerita
jalanan ini, semoga kebaikan menyertai langkah-langkah kita...sampai ketemu
dicerita selanjutnya..
Komentar