Menyisakan Satu Pertanyaan
Matahari pagi merambat, seperti biasa di pagi hari mulai menyalurkan kehangatan. Pohon kelapa yang menjunjung langit dengan sedikit terpaan angin, daunnya pun melambai-lambai bagaikan orang-orang yang lagi senam di depan gedung-gedung pemerintahan. Naiknya matahari ke permukaan yang lebih tinggi mengisyarakatkan aktivitas mulai bergulir, tidak terkecuali penjual kudapan dengan mengelilingi lorong-lorong pemukiman, ada berbagai jenis kue yang dijajakannya. Seorang tetangga membelinya dan memanggil saya untuk duduk mencicipi makanan tersebut. Syukur Alhamdulillah ada tambahan rezeki sepagi ini, guna memuluskan kue melewati kerongkongan kopi menjadi hidangan selanjutnya yang di sodorkan oleh tetangga andalan. Pembicaraan pun mengalir dengan sesekali mencomot kue dari piring. Hingga pada satu titik kue tersisa satu dan bertahan cukup lama, sakin lamanya saya tidak tahu apakah kue itu tadi dihabiskan, atau dibuang? Tetapi kalau dibuang sayang siih, nanti ada yang menangis. Iya kan...