Menyisakan Satu Pertanyaan
Matahari pagi merambat, seperti biasa di pagi hari mulai menyalurkan kehangatan. Pohon kelapa yang menjunjung langit dengan sedikit terpaan angin, daunnya pun melambai-lambai bagaikan orang-orang yang lagi senam di depan gedung-gedung pemerintahan. Naiknya matahari ke permukaan yang lebih tinggi mengisyarakatkan aktivitas mulai bergulir, tidak terkecuali penjual kudapan dengan mengelilingi lorong-lorong pemukiman, ada berbagai jenis kue yang dijajakannya. Seorang tetangga membelinya dan memanggil saya untuk duduk mencicipi makanan tersebut. Syukur Alhamdulillah ada tambahan rezeki sepagi ini, guna memuluskan kue melewati kerongkongan kopi menjadi hidangan selanjutnya yang di sodorkan oleh tetangga andalan. Pembicaraan pun mengalir dengan sesekali mencomot kue dari piring. Hingga pada satu titik kue tersisa satu dan bertahan cukup lama, sakin lamanya saya tidak tahu apakah kue itu tadi dihabiskan, atau dibuang? Tetapi kalau dibuang sayang siih, nanti ada yang menangis. Iya kan?
Barangkali kondisi seperti ini sering kita jumpai, saat nongkrong bersama teman, keluarga atau pun warga setempat. Tatkala makanan menyisa satu di pembaringannya seakan sulit ditandaskan. Dengan itu, saya coba lemparkan pertanyaan ini kepada warga digital yang kita tahu kesehariannya banyak bermukim aktivitas disana.
Hal yang paling banyak tersampaikan dari pertanyaan tersebut adalah (sering terjadi, ada perasaan malu, masih jadi misteri, menuggu keadaan sunyi-senya hup lalu di telan dan ada pula yang menyampaikan dengan nilai filosofis bahwa segala sesuatu tidak untuk dihabiskan oleh manusia) dan itu yang coba diungkapkan melalui ditulisan ini, apa yang membuat gerangan ini terjadi sedemikian rupa?
Sering terjadi, ini menjadi pembuka bahwa laku aktivitas kehidupan manusia banyak bertemu titik kesamaannya. Kondisi ini terbawa dari kebiasaan dari pertemuan individu atau kelompok memunculkan kolektivitas perbuatan turut pula pikiran.
Ada perasaan malu, sifat malu pada banyak hal dan kesempatan sangat baik, sifat ini sebagi pembimbing manusia untuk menegakkan harga diri hal ini kiranya sangat baik pula ketika dibawa ke pergaulan yang lebih luas misalnya malu mencuri hak orang lain, malu korupsi, malu-malu pada kucing dan malu tidak mengikuti seruan perintah-Nya.
Masih jadi misteri, misteri gunung berapi kali aah. Sakin seriusnya misteri ini kita cukupkan untuk poin ini.
Menunggu keadaan sunyi senyap hup lalu ditelan, ini ciri orang yang menunggu momentum diam mengamati sekalinya bergerak menerkam. Hal ini pula kita jumpai pada predator rumahan sebutlah cicak yang dengan telaten mencari rezeki dengan mengendap-ngendap. Kalau diperhatikan dari hewan ini disana tersimpan besar optimisme, pergerakannya bisa dibilang lamban namun satu yang pasti mereka bisa hidup dari pergerakan itu. Ada pula segelintir manusia yang terkadang mengendap-ngendap juga di balik tembok rumah, rumah orang lain tapi. Hehehe,
Segala sesuatu tidak untuk dihabiskan, ajaran ini menurut saya sangat mendalam dan dikelilingi makna. Bahwa kita diajarkan berbagi, berbagi sama halnya menerima. Siklus yang tidak putus. Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, menjaga atau mengontrol hawa nafsu akan menciptakan keseimbangan menuju pada pemaknaan hidup. Kalau lah manusia sudah merasakan dan merasa sudah mendapat bagian, yang tersisa ini sangat patut kita bagi ke mahluk lainnya.
Saat ke luar rumah untuk merangkai aktivitas di bawa kolong langit, dengan mencoba kembali melirik kue tetangga yang sisa satu tadi, ternyata sudah di patok ayam. Sebelum kue itu di lepas ke tanah ternyata di potek-potek beberapa bagian agar kiranya beberapa ayam itu mendapat bagian. Ayam mematuk rezekinya sendiri.
Komentar