Mengutarakan Pendidikan
Peringatan atau perayaan, sejatinya selalu mengandung dua sisi. Sebagai bagian reflektif dan usaha sadar menggarap harapan.
Kita telah dihadapkan fakta dan barangkali merasakan
langsung, masih ada dan bahkan tergolong banyak anak-anak didik kita yang
tertatih lagi berjuang untuk menguasai kemampuan dasar, membaca, menulis dan
menghitung. Baru-baru naik ke muka pemberitaan adalah data dari dinas
pendidikan kabupatern Buleleng, Bali. Disebutkan bahwa terdapat ratusan siswa
yang belum mahir hingga tidak mampu membaca di tingkatan sekolah menengah
pertama.
Kondisi ini menunjukkan dan sejenak menundukkan
kita, bahwa ada kenaikan kelas yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan
kemampuan siswa. Ada yang belum selesai di tahap kemampuan dasar. Hal ini jelas
menyulitkan peserta didik untuk menerima, memahami, dan mengembangkan
pelajaran. Dinas pendidikan Kabupaten Buleleng merespon dengan memberikan
pendampingan langsung atau menambah jam pembelajaran bagi siswa yang terkendala
dalam calistung tersebut. Lebih dari itu, para pemangku pendidikan harus mampu
mendesain secara sistemik untuk mengatasi ketidakcakapan dasar siswa.
Berkaca pada fakta sebelumnya saat PISA melakukan
tes di Indonesia tahun 2022, menunjukkan tingkat literasi siswa Indonesia masih
jauh dari rata-rata pendidikan global. Hasil tes program penilai pelajar
Internasional (Programme for Internatioal Student Asessment/PISA). Skor
Indonesia di bidang matematika 366 (rata-rata global 472), di bidang literasi
359 (rata-rata global 476) dan di bidang sains 383 (rata-rata global 485).
Sejak Indonesia berpartisipasi dalam tes PISA pada tahun 2000, tidak ada
perubahan berarti bagi siswa-siswi di Indonesia.
Pendidikan ditempatkan sebagai usaha kolaboratif.
Seyogyanya ada lima tempat yang bisa menempa seseorang sebagai usaha
mencerdaskan, rumah (keluarga), sekolah (satuan pendidikan), lingkungan
masyarakat, ruang digital dan yang terakhir sebagai peramu dan penelur
kebijakan negara, pemerintah.
Rumah atau keluarga, menjadi ruang interaksi pertama
untuk mendapatkan pengajaran dan ganjaran. Didikan keluarga khususnya orang
tua, sebagai peletak pertama bangunan dasar untuk membentuk wajah karakter .
Selain itu orang tua memiliki ruang untuk mengintervensi jauh anak-anaknya
untuk memberikan pengawasan penggunaan HP dan pendampingan belajar misalnya. Dari keluarga pula diharapakan
terpancar mata air keteladanan yang bersifat berkelanjutan untuk didulang
anak-anaknya.
Khususnya orang tua kalau diperhatikan dalam ruang
lingkup interaksi keluarga, mereka menggunakan HP hampir tanpa jeda. Bahkan
disaat anak-anaknya butuh pendampingan langsung dengan bermain atau belajar
bersama orang tua cenderung melepaskan begitu saja, hampir nihil pengawasan.
Tidak jarang langsung disodorkan HP, sebagai upaya untuk meredam kondisi
anaknya yang barangkali pada saat itu tantrum. Pendekatan macam ini jelas
berbahaya bagi pertumbuhan si anak. Bisa menghambat jalur kognitif dan sensor
motorik anak.
Sekolah, sebagai tempat pembelajaran formal memiliki
andil besar untuk menumbuhkan dan mengasah berbagai lini kemampuan yang
dimiliki seseorang. Di gawangi oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran.
Kompetensi guru sangat berpengaruh bagi majunya suatu pendidikan bagi negara.
Aset terbaik dalam membangun bangsa adalah mewujudkan sumber daya manusia yang
unggul. Dan itu bisa kita lacak dari cerita klasik bangsa jepang, setelah kalah
dari perang dunia kedua, hal pertama yang diingat dan ditanyakan adalah
keberadaan guru. Guru sebagai ujung tombak pembangunan dan peradaban. Seperti
yang dikatakan menteri pendidikan,
Bapak. Abdul Mu’ti.
Lingkungan masyarakat, sebagai kumpulan individu
yang beragam. Kemudian membentuk komunitas setempat dengan nilai atau budaya
yang telah berlangsung lama. Lingkungan setempat sebagai aktivitas sosial dan
bermain, memiliki arus besar dalam mempengaruhi kondisi seseorang. Selayaknya
harapan bersama, jikalau tumbuh kaum pembelajar dan kaum terdidik di dalam
lingkungan aktivitas masyarakat, akan tidak mungkin Indonesia emas bisa lebih
cepat kita dapat. Bukannya cemas, menunggu sampai tahun 2045? Seperti Malaysia
tahun ini yg rencananya menasbihkan diri sebagai negara maju pertahun ini.
Bukannya cemas!
Ruang digital, memasuki abad 21 teknologi meluncur
pesat. Mengambil banyak ruang dalam aktivitas manusia tidak terkecuali bagi
sektor pendidikan. Masih segar dalam ingatan bagaimana teknologi atau platform
digital memainkan perannya saat dunia dilanda covid 19. Penggunan teknologi semakin
massif dalam aktivitas pembelajaran, namun tidak banyak membantu mendongkrak kemampuan siswa. Yang ada malah
mengganggu pertumbuhan kognitif dan mental anak-anak. Kita tengok saja berapa
banyak waktu yang dihabiskan anak-anak untuk main game atau menonton
potongan-potongan video?
Kembali melihat apa yang terjadi di Buleleng, bahwa
anak-anak bisa mengetik di Hp atau bahkan membaca di layar. Namun, ketika
disodorkan langsung buku teks atau diminta menulis belum tentu mampu.. Di
beberapa negara, sudah membatasi penggunaan HP bagi anak-anaknya dan kembali ke
buku teks konvensional dalam pembelajaran.
Negara, pemerintah. Termaktub dalam undang-undang
dasar bahwa negara Indonesia hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi
pedoman untuk mewujudkan cita-cita nasional tersebut. pemerintah sebagai peramu
dan penentu kebijakan harus mencermati kondisi hari ini. Harus ada upaya
sistemik untuk meningkatkan kemampuan siswa. Semisal membangun, meningkatkan
atau memperbahauri fasilitas pendidikan. Sebagai seorang guru yang mengejar di
daerah terdepan, terluar dan tertinggal merasakan dan menyaksikan langsung
bagaimana keterbatasan fasilitas dan kekurangan sumber daya guru jadi
penghambat kemajuan pendidikan di pelosok.
Selanjutnya, mendorong pemerintah untuk meningkatkan
kompetensi dan kesejahteraan guru.
Menetapkan kurikulum dalam waktu jangka panjang. Agar bangsa kita terhindar
dari fenomena kebijakan ganti menteri ganti kurikulum. Kalau hal itu terus
berlanjut, saya kira pendidikan kita tidak bisa kemana-mana bahkan linglung
menentukan arah, bukan?
Komentar