seketika kami turun dari kendaraan, melangkah beberapa meter terperanjak bahwa yang di duduk di dekat etalase pintu  itu adalah teman seperjuangan di sebuah organisasi. Sapaan hangat yang biasanya hadir di masa itu ditambah bumbu basa-basi seketika menjadi sebuah keasingan. Dengan spontanitas saya mulai menyapa walaupun gerakan katupan bibir terasa kaku. kata-kata seakan enggan keluar dari persembunyiannya di balik permasalahan sebelumnya. Dengan menyisakan dua kursi kosong kami mengisi tempat itu. pancaran ekspresi kekagetan juga tersiar pada beliau. Untuk menetralisir hal tersebut kami mencoba membuka obrolan dengan pertanyaan  sederhana. Duduk beberapa saat kemudian kami ditawari untuk memesan, teman saya beranjak ke pelayan memesan kopi susu gula aren. Dia pun menimpali kembali dengan beberapa pertanyaan. suasana pun seakan menuju titik cair seakan-akan tidak ada permasalahan sebelumnya, walaupun kalau dipikir ini rasa-rasanya semua masih tertahan terpendam dalam hati masing-masing. Sesakali dari kita masing-masing memainkan gaway untuk mengisi kekosongan bicara atau untuk mengimbangi ke gaguan pertemuan yang tak terduga malam itu. Kopi pun hadir di tengah asap yang menyembul ke ruang udara. Percakapan dilanjutkan dengan pembasan isu terkini, sembari pembicaraan berlangsung teman kami yang satu datang dan ikut bergabung. tidak lama dari itu teman lama kami ini beranjak dari tempat duduknya menuju kasir. sekembalinya dari kasir beliau berpamitan dan pada akhirnya ternyata kopi kami juga telah terbayarkan. Semoga di pertemuan selanjutnya kita bisa menyeselaikan lipatan masalah, benang kusut harus diusut. mengurai dan terurai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu dan hidangan kasih sayang

Mengutarakan Pendidikan