Gantung Masker
Hajatan besar sepak bola benua Eropa atau lazimnya disebut EURO 2020 baru saja menyelesaikan partai puncak, final. Mempertemukan dua sejoli dengan riwayat sepak bola yang kuat Ingris versus Italia pada hasil akhirnya Italia keluar sebagai perengkuh medali utama. Turnamen yang harusnya dihelat tahun lalu harus mengalami penundaan, setelah melalui proses atau tahapan panjang hingga bisa tersenggelarakan di tahun 2021.
Jamak diketahui bahwa pandemi covid 19 melanda dunia mengakibatkan keterbatasan dan pembatasan untuk beraktivitas tidak terkecuali sepakbola. Liga-liga domestik di Eropa tahun lalu sempat dihentikan beberapa pekan mengingat lonjakan kasus pandemi yang tak kira-kira, seiring dengan itu putaran liga tetap dilanjutkan hingga selesai, hanya saja penikmat sepakbola atau suporter di larang untuk ambil bagian, duduk atau berdiri di tribun memancarkan sorak dukungan.
Masih hangat dalam ingatan bagaimana Italia atau negara benua Eropa lainnya berjibaku melawan virus kecil nan mematikan ini dan bahkan seluruh dunia. Kabar kematian begitu akrab di daun telinga, lonjakan kasus infeksi virus corona membuat dunia kelimpungan. Barangkali kita sepakat bahwa tidak ada negara dengan kesiapan matang menghadapi pandemi, penanganan atau proteksi dalam skala kecil hingga besar kemudian coba disusun, para pemuka kesehatan, ekonomi, agama, sosial dan pemerintah itu sendiri sebagai penyuluh penanganan covid terus bergerak dan berfikir mencari formulasi untuk meminimalisir penyebaran covid 19 yang juga dalam perjalanannya mengalami perkembangbiakan alias varian baru.
Guncangan ekonomi tidak kalah serius mengalir, begitu sesak dalam artian putaran roda ekonomi merayap kalau tidak mau disebut macet, secara umum perusahaan mengurangi karyawan ada yang diistrahatkan sementara dan ada pula yang selamanya atau pemutusan hubungan kerja (PHK), daya beli masayarakat menurun berkelindan dengan pembatasan aktivitas ekonomi di pasar, mal, warung makan, tempat hiburan malam (THM) dan tempat lainnya. Jam operasional yang hanya berlaku sebentar dan pembatasan aktivitas masayarakat itu sendiri. Kegiatan keagamaan di rumah-rumah ibadah juga tidak terhindarkan, dibatasi kalaupun dilaksanakan secara berjamaah harus dengan protokol kesehatan yang ketat dan di beberapa waktu, seruan untuk melaksanakan ibadah di rumah saja, tergantung situasi di kawasan tersebut.
Di ranah sosial yang mencakup maha luas aktivitas dan pembicaraan, termasuk pembahasan sebelumnya menggulirkan banyak fenomena. Sejak kemunculannya virus ini mengiring kita pada ketaatan-ketaatan sosial, aturan perkumpulan dan perjalanan yang ketat. Namun, tidak bisa pula dihindarkan bahwa keresahan dan kecemasan menyerebak luas, ketidakpastian kondisi yang mengharuskan kita keluar daripada kebiasan yang telah lama dilakoni. Pandemi ini mengajarkan dan menghajar kita banyak hal. Air mata kedukaan mengepung pandangan, pendengaran, dan rasa kemanusia kita lebih tergugah untuk saling peduli. Di suasana keterbatasan seperti ini ruang digital memainkan gocekannya, laksana jembatan penghubung di arus sungai yang menderas.
Sebagai penunjuk jalan, Pemerintah di setiap belahan dunia terus berupaya untuk melindungi masayarakatnya, kebijakan lalu digulirkan. Berbagai formulasi di terapkan guna menghadang pandemi covid 19 yang tidak mengenal ruang menginfeksi manusia. Dengan jenis virus yang sama kemudian tidak dengan kebijakan atau penangannanya, kita mafhum bahwa perbedaan kondisi alam, fasilitas kesehatan, kondisi ekonomi, dan barangkali tingkat pemahaman masayarakatnnya turut berperan andil dalam penanganan wabah ini.
Pandemi covid 19 melahirkan kompleksitas, menuntut pemerintah untuk bekerja lebih giat dan “menggigit” dalam penangannya. Hari ini pemandangan kepatuhan selalu kita jumpai, ada yang dengan ketaatan tinggi, disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes), ada pula dengan ketaatan protes, bila dilihat secara jernih sangat cukup beralasan menengok beberapa lini penanganan covid yang kurang baik, terbarukan bisa kita saksikan dalam aktivitas pengamanan prokes di rumah makan atau pedagang kaki lima yang kurang beradab dalam penertibannya. Belum lagi kita berbicara denda yang sekiranya sangat memberatkan, pedagang tersebut keluar dari rumah bukan tidak patuh atau tidak percaya pada covid 19 namun untuk melanjutkan keberlangsungan hidup, karena tidak semua orang bisa bekerja dari rumah. Mereka Cari makan, bukan cari masalah, terlebih cari mati. Berharap pada bantuan sosial yang telah lebih dulu dicolong oleh pejabat biadab dan orang-orang di sekitarnya. Pada dasarnya pengetatan prokes ini berangkat dari aturan pemerintah, adapun mereka yang diberikan mandat untuk menertibkan tidak selayaknya bertindak sewenang-wenang tanpa mengindahkan rasa kemanusiannya. Sangat disesalkan ketika penerbitan semacam itu dilakukan dan jangan sampai terulang.
Gelaran turnamen benua Eropa juga menyisakkan kesedihan di sisi lain kebahagian. Dari 24 tim yang terbagi dalam 6 group 23 negara pulang membawa kekalahannya, pertandingan memang hanya melahirkan dua syarat dan menyisakan satu kemenangan sesungguhnya. Di saksikan bahwa masayarakat disana sudah bisa datang langsung ke stadion menyaksikan pertandingan, ada yang tetap pakai masker menutup hidung, menutup dagu, ada yang menjadikan penutup kepala bagian depan, dan ada pula yang tidak menutup apa-apa. Walapun masih dalam kapasitas tampungan stadion dikurangi, sekiranya ini sudah melalui prokes yang ketat. Belahan negara lain mengharapkan pemandangan yang serupa namun belum bisa terwujud karena pandemi covid yang belum menunjukkan tanda-tanda akan menurun malah tren kenaikan infeksi virus yang menjalar. Kembali di ujung sana telah menggantung masker di kamarnya atau barangkali sudah ditabung dan dibumi hanguskan pada tempat sampah, benar bahwa kita disini juga telah menggantung masker tapi ujung talinya masih bertengger di telinga, maskernya menutup hidung, dagu dan adapula yang di dada bergelantungan. Pada intinya pemain, penggemar dan manusia pengais kehidupan disini rindu, kita ingin bola kehidupan kembali bergulir dengan normal secara global.
Komentar