Perjalanan, Merekam Enrekang

Sore, langit Makassar selalu saja menorehkan keindahan di ufuk barat. Merambat sendu diriingi seruan dari menara surau. Laki-laki itu lekas mengemas pakainnya dalam tas berwarna biru tua. Mobil yang melayani rute Makassar-Pare akan tiba sekitaran pukul 19:22 Wita. Sesuai hasil percakapan beberapa jam sebelumnya. 

Kediamannya yang berada di ujung lorong, tidak terlampau jauh dari bangunan surau, tapi lebih memilih memakai kendaraan motor honda sepupunya untuk menuju tempat ibadah. Bukan apa,  lorong  rumahnya tatkala air membumi layanan menjadi becek dan kita akan dapati kubangan-kubangan kecil mengepung pandangan. 

Suara iqamah menyambut, berkelindan pula orang-orang hilir mudik dari tempat wudhu yang  berdampingan dengan kamar mandi, dalam surau ummat secara tertib mengambil barisan. Anak-anak disisipkan antara orang dewasa, meminimalisir rengek cekikan yang sedikit banyak menganggu kekhusyan dalam menjalankan ibadah, apalagi yang imannya masih sering goyah, layaknya layang-layang yang putus dari penanggal senarnya. 

Melepaskan salam, simpul duduknya, berganti. Menguntai zikir dan tangan menangadah mulut merapal doa melangit dan keluar untuk membumikan usaha. Hasil adalah jawabannya entah dalam keadaan yang diinginkan atau pun dalam bentuk lain, dengan kepercayaan bahwa hidup ini adalah keteraturan sang Maha Kuasa. 

Dering whatsap menyambar layar telepon seluler (ponsel) dari Pak. Sopir yang sudah di depan lorong, perjalanan pun dimulai, melintasi kota makassar yang tak pernah sepi, malam itu ditemani terang kerlap-kerlip dari lampu jalan, kendaraan, hotel dan juga kala gelap menyergap, alias sembarawutnya jalan, macet. Tak ayal pikiran dan kelakuan pengguna jalan seringkali juga mencak-mencak sekenanya. 

Melewati perbatasan Makassar-Maros kita akan disuguhi naungan terowongan yang menghubungkan jalan tol dengan akses bandara Sultan Hasanuddin. Kendaraan berbagai jenis melintas beriringan dan berpapasan dengan besi terbang,  menuju citanya masing-masing. 

Terasa kurang lebih 3 jam waktu yang dibutuhkan untuk melintasi 3 Kabupaten yakni Maros, Pangkajene dan Kepulauan (PangKep), dan Barru hingga saya merebahkan diri di rumah teman di Kota Pare-pare. Perkenalan kami bermula saat mahasiswa baru yang juga mengambil jurusan sama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar. lalu, disambut hangat oleh keluarga sederhana nan bersahaja. Sebelum mata tenggelam di pulau kapuk saya berbincang dengan Ikram banyak hal, satu diantaranya tentang persiapan esok pagi menuju Kabupaten Enrekang, seorang teman disana sudah siap menyambut kami. 

ketukan pintu kamar terdengar nyaring dari muka pintu, matahari pun sebenarnya sudah mencoba membangunkan kami, masuk di sela jendela yang luput ditutup sebelum tidur. Duduk sebentar menenangkan perasaan, lalu  kami bergegas sholat subuh, namun di pagi hari hehehe. Kepulan asap kopi dan kehangatan pisang goreng telah terhidang cantik di meja panjang, pembuka sarapan pagi ini. Ibunda Ikram menemani kami lebih tepatnya menami saya berbincang, beliau asyik dalam mengelola percakapan, layaknya jalan-jalan kota berlangsung dua arah. 


Saya dengan Ikram sepakat berangkat agak lebih pagi, setelah menandaskan menu ikan bolu, sayur bening dan bulir nasi putih sebagai penggerak utama. Silih berganti untuk memakai kamar mandi. Seperti biasa, sebelum berangkat kami meminta izin kepada Ibunda dan Ayahanda. Jaket telah berbadan, tali sepatu telah terikat dan tangan mulai menarik tuas, Enrekang izin kami datang. 

Perjalan dari Kota Bandar Madani Pare-Pare menuju Kabupaten Enrekang via Kabupaten Pinrang membutuhkan waktu sekitar 2 jam  tapi tergantung juga sih kecepatan dalam menunggangi kendaraan. Mengingat sebagian jalan masih menyisakan ketidakmulusan, terutama sekitaran 3 kilometer sebelum masuk Kabupaten Enrekang.

Gerbang kota selamat datang terpampang jelas dengan balutan warna kuning emas. Suasana kota Enrekang yang bisa dikatakan tidak terlalu padat akan kendaraan, kami menurunkan sedikit laju motor menikmati sisian kota. Tugu atau simbol-simbol yang terpajang di beberapa persimpangan jalan menjadi daya tarik tersendiri, menarik pikiran untuk mengetahui makna keberadaan tugu tersebut. Melewatkan gerbang kota, kami disuguhi iklim yang sejuk, kanan dan kiri sama sedapnya di pandang, kecuali Ikram yang saat itu bawa motor harus tetap memandang lurus hanya sesekali mencuri keindahan yang sayang untuk dilewatkan. Melakukan perjalanan tanpa istrahat adalah pemaksaan bukan cuman fisik manusia tapi barangkali motor juga mau mengambil nafas dalam-dalam. Kami sepakat singgah di warung yang memanjakan pengunjung karena berhadapan langsung dengan gunung orang-orang disina menyebutnya "nona". Saya juga belum tahu lebih jauh kenapa disebut gunung nona, yang jelas sangat indah, bagai potongan senyum dengan mata yang memicing. Warung  ini nyaman untuk meluruskan badan dan pikiran, berhubung tempat kami singgah ini memiliki ketinggian namun harap tenang sisiannya sudah diamankan dengan kawat gigi eeh maksudya sudah di pagar. Jadi pengunjung yang membawa anak-anak tidak perlu terlalu khawatir. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika selesai makan lalu lupa bayar, hehehe.

Perjalanan kami lanjutkan, pergantian pemain juru kemudi motor. Ikram yang sudah beberapa kali ke Enrekang dan singgah di rumah Suaib Natsir masih sempat banyak lupa di mana lorong rumah teman tersebut. Namun, beliau patut diajungi jempol dari kodim setempat karena kekeh tidak mau singgah bertanya atau menelpon sang pemilik kampung Suaib Natsir. Pasar Cakke barangkali sudah muak melihat kami bolak-balik celingak-celinguk menjenguk lorong, hingga kepastian itu kami dapat, rumah sahabat sudah di depan motor yang mesinnya panas dibuat pusing mengelilingi kebingunan. 



























Komentar

Muhammad Suaib Natsir mengatakan…
Saya komentari, tulisannya bagus bet
Angngukiri mengatakan…
hahaha, blogger andalanku.

Postingan populer dari blog ini

Ibu dan hidangan kasih sayang

Mengutarakan Pendidikan