ORGANDA DAN KISAHNYA
"Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali". Silahkan dibaca dengan irama nada, penggalan lirik lagu dari band Noah itu meyuratkan pula kondisi beberapa pekan yang lalu di Kota Daeng Makassar aksi penyerangan atau lebih tepatnya saling balas serangan antara dua organisasi daerah yang dibawah naungan administrasi kewilayahan provinsi Sulawesi Selatan. Selaras dengan pantun yang berbalas. Kalau dalam ranah sepak bola dikenal kalimat jual-beli serangan. Kecuali mungkin cintamu kawan yang belum terbalaskan. Bukankah kesendirian itu menghamparkan ketenangan, iya kan? Sebentar tapi, alias lebih banyak murung bin galaunya. Hahaha
Apakah mereka penganut sekte lirik lagu tersebut? Entahla, tapi penulis mencoba menyisik kejadian yang sering terjadi tanpa episode berkesudahan na kalah-kalah Cinta Fitri. Eeh, cinta fitri saja kan sudah tamat.
Organisasi Daerah (ORGANDA) ditempat lain juga dikenal akronim ini sebagai "Organisasi Angkutan Daerah" tapi dalam tulisan bukan hal tersebut yang dimaksud. Organda Lahir sebagai ruang perkumpulan dari suatu daerah atau Kabupaten/Kota yang kemudian menghimpun diri dalam organisasi kedaerahan tersebut. Pada dasarnya hadirnya organda ini sebagai wadah silaturahim, jenjang pengkaderan yang memancarkan keilmuan dan pengawalan ragam isu dari bibir berita nasional dan lebih khususnya isu kadaerahan yang kita tahu sering kali pemerintah bintang pusat hingga perosok desa sedikit-banyak luput atau keliru dalam menjalankan tugasnya. Makanya perlu dikawal, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang saling mengingatkan (baca:Kritik) dalam kebaikan bersama nan umum.
Kota makassar telah lama diketahui menjadi Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan yang pernah beberapa kali berganti nama. Kalau anda yang pernah naik pesawat dari dan ke makassar maka anda akan mendapat jawabannya di lembar tiket tapi kalau mau lebih gampang buka perambah google atau bertanya sama orang di samping anda. Makassar menjadi salah satu kota di bagian Indonesia Timur yang sangat disibukkan dari jalur perdagangan ekonomi hingga ruang untuk merambah ilmu dari sumur-sumur kampus. Menjadi titik pertemuan orang-orang yang terpelajar yang lagi haus-hausnya menenggak air keilmuan.
Kejadian yang merupa seperti yang tersebutkan sebelumnya adalah hal yang sangat memilukan dalam pengertian kaum-kaum terpelajar yang identik dengan mengedepankan rasionalitas dan dialogis seakan hilang tak berbekas di kepala mereka. Pertikain yang terkadang hanya melibatkan dua individu kemudian melebar ke asal daerah orang yang bertikai tersebut, seolah apa yang sering di dengunkan oleh mahasiswa itu sendiri tentang persaudaraan sesama anak bangsa di bawah kolom kata “terpelajar” lenyap di lahap nafsu keruh.
Secara umum ada 4 etnis besar yang berdiam-gerak di Sulawesi Selatan ada suku Toraja, Bugis, Mandar, dan Makassar. Ada 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Dari sekian banyak konflik organda minim sekali mengarah atau menyangkut etnis tersebut atau bahkan tidak pernah. Membuka sedikit tabir kekonyolan yang terkadang di lakukan oknum tapi banyak dari kaum organda yang bertikai adalah menyisir sekretariat sampai mengamati kode plat kendaraan. Point terakhir ini yang sangat berbahaya, memilukan pula karena tidak semua orang yang kuliah di makassar tahu permasalahan dan masuk organda. Kalau pun iya, hal yang sangat tidak terdidik ketika sulut pertikain terus dikobarkan.
Pengalaman sedikit dari kelurga dan teman sekala mahasiswa yang terkadang untuk mengantisipasi penyerangan tatkala ada gejolak organda yaitu dengan melipat plat atau bahkan mengganti plat kendraannya alias memasang plat palsu, sering terjadi hehehe. Mentang-mentang sekarang era kode algoritma seenak nafsu dendam saja menahan kendaraan. Tukang palak kali yaa?
Menjadi pertanyaan besar apa yang membuat kondisi itu berulang atau tertanam, lagi terawat di alam pikinya kader organda? Secara iklim pengkaderan misalnya muatan lokal kedaerahan dalam artian penjabaran nilai-nilai sangat baik untuk merangsang dan mengawal pikiran serta perbuatannya. Misalnya, paham “siapakatau, sipakainga, tallang sipahua manyu siparampe” pengertian dalam bahasa Indonesia “saling memanusiakan,saling mengingatkan, dan saling tolong menolong”. Jadi konsep persaudaraan nilai universal tentang kemanusia telah ganrung tertanam di kakek-nenek moyang kita kemudian di jabarkan dan harap di praktekkan turun-temurun. Lalu apa, jawaban pertanyaan sebelumnya. Mari kita jawab di paragrap selanjutnya.
Ada pappasan (pesan) umum yang juga jamak diketahui dan diajarkan ke anak-anak Sulawesi perihal konsep siri na pacce (rasa malu atau harga diri) terkadang dalam pengertiannya karena pemahaman yang belum tuntas malah jatuhnya sering licin tergelincir bisa saja sejak dalam pikiran lebih-lebih dalam perbuatan. Penempatan-penempatan ini yang biasa kebablasan. Di ranah hukum kalau lah dewi keadilan disimbolkan dengan mata tertutup, bahwa hukum tidak memandang siapa. Terkadang yang katanya kaum terpelajar juga memakai idiom ini yang bukan pada tempatnya.
Terkadang pula yang mendaku senior dengan pongahnya menceritikan kisah kemenangan (kalahnya tidak disebut) masa lalu pertikaiannya mulai dari dalam kampus antar fakultas, jurusan hingga pertikain luar kampus antara organda aparat keamanan hingga anak lorong warga sekitar. Kemudian mendarah cerita yang seolah harus diikuti, secara tidak langsung memupuk rasa sempit konsep kekuatan suatu daerah yang terkadang dimanifestasikan dalam ajaran siri na pacce tersebut. Menjadi rahasia umum bahwa kampus-kampus di Makassar atau pun yang disekitarnya misalnya Kab.Gowa sering kali terjadi pertikaian atau kekerasaan mahasiswa atau pelajar.
Berangkat dari kesah ini sangat perlu untuk bertanya kembali kepada setiap penghuni organda mau pun alumnus, bahwa apakah kejadian merupa ini dibiarkan begitu saja yang sangat sering melukai dan memakan korban? Bukankah sejatinya organisasi hadir untuk menginisiasi tujuan bersama. Organda sesuai citanya jadi ajang silaturahmi, pengembangan potensi kader dan mengawal serta merawat daerah menuju kemajuan.
Ada satu gugahan teori yang barangkali relevensi dengan kondisi diatas filsfuf berkebangsaan Jerman Elias Cannetti mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia suka dengan perkumpulan, mahluk sosial. Ada banyak faktor yang bisa menempatkan seseorang untuk berhimpun berangkat dari bahasa, kultur, adat, kesamaan visi-misi pikiran dan kedaerahan. Kekayaan Indonesia telah lama dikenal sebagaai bangsa yang multietnis dan multitalenta. Pergumulan sosial dalam hal ini himpunan organda sangat baik sesuai citanya untuk membawa arus-arus perubahan manusia yang lebih beradab. Lalu apa yang menarik dari teori ini? seringkali ketika terjadi pergolakan sosial yang mengatasnamakan kedaerahan ini memancing sulut emosi yang berlebihan dan cenderung menekuk akal sehat, individu-individu yang dianggap baik bisa hilang kendali tercabut dari akar kebiasaannya ketika kita atau mereka larut dalam Massa Dan Kekuatan. Tarikan itu menghantarkan energi positif dan negatif kalau jatunya yang terakhir ini beringsut nafsu animal. Maka penting untuk membawa kekuatan massa atau perkumpulan organisasi kedaerahan ini menjernihkan pesan-pesan leluhur dengan amalan sipakatau, saling memanusiakan.
Komentar