Koalisi Gelas

Memulai tulisan ini dengan cakep. 

Ke pasar bersama ibu Ranum. Ibu membeli sepasang sepatu

Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hari-hari suntuk sangat akrab dengan kantuk. Tanpa kegiatan yang memacu potensi aktif manusia yang dimilikinya. Menemani hari yang lagi membara dengan jemari  yang  begitu piawai menggulirkan layar gawai, menonton video reels instagram yang kalau diikuti barangkali tidak ada habisnya. Kuotaku aja yang habizzz

Tatkala tangan mulai kebas, gawai pun demam, atap rumah menggeliat diterpa sinar yang mencercah.  Saya beranjak, menanggalkan pembaringan yang mulai lusuh ditindas oleh kaum rebahan. Mencari udara segar diteras, sedang lalu lalang. Memandang pohon mangga yang mengugurkan duannya, barangkali untuk mengurangi beban kali yaa, hahaha. 

Halaman berserakan. Gumamku, akan kubereskan sebentar dengan mengayunkan sapu lidi diantara serpihan batu batu imut yang kalau dicubit, saya yang kuker. Ngapain juga...

Saya masuk rumah, mengunjungi dapur barangkali ada yang bisa dimaksimalkan. Benar sekali seperti harapan Anda, ada air, kopi dan sedikit gula untuk dilarutkan dalam koalisi gelas. Koalisi ini bisa mengalahkan gabungan partai politik, setidaknya untuk saat ini. Mari ngopi...

Ngopi adalah salah satu kenikmatan yang diamini banyak orang, entah itu disesap atau diobrolkan, seperti sebutan pelesetan lidah NGOBROL POLITIK. Tapi, ini kan ditulis jadi bisa diakronimkan sesuai kesukaan anda.

Menyesap kopi, pikiran saya pun berkelana. Anugerah akal, menyemai semesta yang begitu dekat dalam kepungan kepala. Saya penasaran, ditengah penjajakan bacapres, mencari pendamping wacapres apa yang menjadi perbincangan dibalik hingar bingar layar yaa? pertanyaan pun berlanjut di kepala saya sendiri, apakah betul, mereka memikirkan rakyat atau hanya kelompok dan kemenangan semata yang beriontasi pada perlindungan kepentingan tertentu. Saya pun mencoba menyusun kesadaran, terserah mereka mau pilih pendamping sang presiden? Saya pun masih pusing ini mencari pendamping. Ehh curhatnya tembus.

Perguliran pikiran, sayang kalau dilewatkan begitu saja. Untuk sedikit menghiasi hari ini saya menuangkannya di layar laptop. Saya menyesap kopi kembali, masih menyisakan setengah gelas. Hanya saja pikiran saya mulai membeku dan tubuh menggeliat kepanasan, mencari kipas. 

Wassalam



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu dan hidangan kasih sayang

Mengutarakan Pendidikan